Kamis, 10 September 2009

Proxy ARP

hmm.. sekian lama dah ga update ini blog, akhirnya niat gw untuk update muncul lagi :P

ok deh langsung aj, tapi kali ini bukan tentang curhat mencurhat, tapi gw pengen share sedikit ilmu yang gw dapet :) yaitu tentang proxy arp

ok guys, lanjut ke TKP...


Topology












Gedung abc memiliki 4 lantai, dan masing-masing switch di lantai tersebut access vlan 60 yang ada di distribution switch di gedung tersebut.

Switch(config)#int vlan 60
Switch(config-if)#ip add
Switch(config-if)#ip add 10.10.0.254 255.255.0.0
Switch(config-if)#no shut
Switch(config)#int range gigabitethernet 0/1 - 4
Switch(config-if-range)#switchport mode access
Switch(config-if-range)#switchport access vlan 61

note : ip interface vlan 60 di atas menggunakan ip address kelas C

Apabila terjadi broadcast di gedung abc, maka semua lantai di gedung tersebut akan mengalaminya. Dengan alasan itulah maka dibuat vlan perlantai.

contoh config:

lantai 1 : 10.10.1.254
lantai 2 : 10.10.2.254
lantai 3 : 10.10.3.254
lantai 4 : 10.10.4.254

untuk config di distribution swithcnya (misal cisco 3750)

untuk lantai 1

Switch(config)#int vlan 61
Switch(config-if)#ip add
Switch(config-if)#ip add 10.10.1.254 255.255.255.0
Switch(config-if)#no shut
Switch(config)#int gigabitethernet 0/1
Switch(config-if-range)#switchport mode access
Switch(config-if-range)#switchport access vlan 61

untuk lantai 2

Switch(config)#int vlan 62
Switch(config-if)#ip add
Switch(config-if)#ip add 10.10.2.254 255.255.255.0
Switch(config-if)#no shut
Switch(config)#int gigabitethernet 0/2
Switch(config-if-range)#switchport mode access
Switch(config-if-range)#switchport access vlan 62

untuk lantai-lantai selanjutnya mengikuti dari command-command yang ada di atas, hanya saja ubah ip address dan penamaan vlan-nya.


untuk config pada access swtichnya (misal cisco 2950)

untuk lantai 1

Switch1(config)#int vlan 61
Switch1(config-if)#ip add
Switch1(config-if)#ip add 10.10.1.253 255.255.255.0
Switch1(config-if)#no shut
Switch1(config-if)#exit
Switch1(config)#int range fastEthernet 0/1 - 24
Switch1(config-if-range)#switchport mode access
Switch1(config-if-range)#switchport access vlan 61
Switch(config)#ip default-gateway 10.6.1.254

untuk lantai 2

Switch2(config)#int vlan 62
Switch2(config-if)#ip add
Switch2(config-if)#ip add 10.10.2.253 255.255.255.0
Switch2(config-if)#no shut
Switch2(config-if)#exit
Switch2(config)#int range fastEthernet 0/1 - 24
Switch2(config-if-range)#switchport mode access
Switch2(config-if-range)#switchport access vlan 62
Switch2(config-if-range)#exit
Switch2(config)#ip default-gateway 10.6.1.254

Setelah semua di setting seperti diatas, saya coba test di lantai 1 dan ternyata saat menggunakan ip vlan 61 (10.10.1.2 - 252) dan masih menggunakan gateway yang lama yaitu 10.10.0.254, saya masih bisa ping ke ip segment lain, misal ke segment ip lantai 2.

Dengan kondisi seperti ini sebenernya untuk segmentasi broadcast per lantai sudah berhasil, dari sisi security masih terbilang kurang.
Untuk solusinya kita disable proxy arp di masing-masing interface vlan pada distribution swtich.

list command :

Switch2(config)#int vlan 61
Switch2(config-if)#no ip proxy-arp
Switch2(config-if)#int vlan 62
Switch2(config-if)#no ip proxy-arp
Switch2(config-if)#int vlan 63
Switch2(config-if)#no ip proxy-arp
Switch2(config-if)#int vlan 64
Switch2(config-if)#no ip proxy-arp
Switch2(config-if)#exit
Switch2(config-if)#int vlan 62
Switch2(config)#

Dengan command di atas, maka apabila kita menggunakan gateway yang lama atau gateway sembarang, maka sudah tidak bisa lagi ping ke lain segment.

Untuk lebih jelas membahas proxy arp, bisa diliat di link di bawah ini :)

http://www.cisco.com/en/US/tech/tk648/tk361/technologies_tech_note09186a0080094adb.shtml


regards

Selasa, 24 Februari 2009

good bye nineteenth ^_^

Di bawah naungan bulan Februari
Di balik selubung tahun dua ribu enam.

Menjumpai yang telah lama tak bersua dalam suatu jumpa.

Aku adalah selembar risalat, yang ditulisi sebaris dua kata-kata hati dari ujung pena kalbu dengan tinta nurani. Aku tercipta dari rahim kesunyian, tumbuh dan berkembang dalam buaian dan asuhan kesepian dan kesendirian. Aku terlahir sebagai bukti dari pada sebuah penungguan, penungguan akan – ada yang menyebutnya sebagai – sebuah ketidakpastian.

Dan, aku – selembar risalat – terutus untuk sekedar mengingatkan sang masa, bahwa hari ini – hari dimana aku tercipta dan terlahir – telah pernah mendahuluiku akan sebuah kelahiran yang sehingga kini masih abadi. Sekedar memohon pada sang masa ‘tuk sudi dalam henti sejenak, memberi satu kata ucap dan tinggalkan sebongkah kado harapan yang terbungkus rapi do’a-do’a dan terikat pita semoga-semoga, yang terkirim dalam sepenggal kata, beralamat pada tuanku putri dalam istana, dari salah satu pemujanya yang tengah menikmati deritanya dalam jurang cinta, yang terbelenggu dalam pasung-pasung kesepian dan kesendirian, yang batinnya hancur oleh lecutan cemeti penantian. Dan kini, ia tengah mengerang dalam sakaratnya. Nyawanya telah teronggok antara kesetiaan dan ketidakpastian. Sekedar berharap mampu melihat sang tuanku putri dengan senyum saat kematian merangkulnya.

Aku – selembar risalat – tak mampu lagi ‘tuk memanjang lebar kata. Karena bagaimana mungkin seorang buta ‘kan dapat mengungkapkan isi batinnya dalam goresan-goresan lembut pena, sementara untuk menceritakannya ia pun tak mampu, karena sekaligus ia seorang yang bisu. Sehingga ia tak bisa membuat orang lain mendengar ataupun ia sendiri yang mendengar isi batinnya, karena pada saat yang sama ia adalah orang yang tuli. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menanti saat sebuah uluran rasa menyentuh sejuk kalbunya, karena akan mustahil sebuah uluran tangan akan menyentuhnya, sementara ia kini tak lagi berraga, hanya sebuah jiwa yang terlepas dari belenggu jasadnya.

24 Februari 2009

http://kemudian.com/